Minggu, 04 Desember 2016



KEPEDIHANKU KARNAMU



Malam begitu sunyi ketika Reina berjalan di sisi kota tua itu… yang terasa hanya dingin menyengat jiwa-jiwa yang kesepian. Jalan-jalan itu nampak sepi. Hanya terlihat beberapa kendaraan yang lalu lalang… hmmm… benar-benar malam yang sangat sunyi… sampai Reina memuskan untuk duduk sejenak di sebuah kursi taman tua yang rapuh…
Ya, Reina hanya duduk termenung dan melihat sekeliling yang kosong tanpa kehidupan… hari itu begitu cerah… terlihat bintang yang bertaburan indah dan bulan yang saling melengkapi. Tuhan…. begitu indah ciptaan Mu… dalam benak-nya…. Setelah puas menikmati malam di lorong jalan itu… Reina memuskan untuk melanjutkan perjalanan malam-nya…
Disini nampak ramai… nampak terang oleh lampu… terdengar musik melayu mengalun dari sebuah kedai dengan lampu remang-remang… banyak orang disini… namun, Reina masih saja merasa kesepian.
Setelah kepergian Risa satu tahun yang lalu, Reina selalu merasa kesepian dan bersalah. Reina selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Risa. Bahkan ia pernah sampai mencoba melukai dirinya sendiri, dan itu bukan hanya sekali dua kali saja. Keluarga Reina sampai tidak tahu harus berbuat apa lagi agar ia bisa kembali ceria seperti semula.
***
Reina melangkah cepat menuruni jalan kompleksnya. Tahu-tahu, Reina melihat ke sebuah taman yang terletak tak jauh dari kompleks rumahnya. Reina berhenti sebentar, dan menatap taman yang tak pernah berubah dari sejak dia masih kecil. Taman yang asri dengan lapangan basket di tengahnya dan beberapa kursi taman di pinggirannya. Taman yang menyimpan banyak kenangan. Terlalu banyak kenangan.
Reina memutuskan untuk memasuki taman itu. Entah kekuatan apa yg menariknya ke sana. Terakhir kali dia ke sana adalah satu tahun lalu sebelum kepergian Risa. Sejak itu, dia tak pernah ke sana lagi. Reina terlalu takut untuk memasuki taman itu, ia takut kalau ia kesana, ia akan ingat dengan kenangannya bersama Risa lagi.
Reina memaksakan diri untuk berjalan ke sebuah pohon, tempat janji itu dipahat. Setelah bertahun-tahun berlalu, tulisan itu masih di sana. Tulisan Rei-Risa. Reina menatapnya tanpa ekspresi. Gadis itu tak akan pernah muncul lagi. Tak akan pernah lagi setelah ia pergi untuk selamanya.
Risa. Gadis kecil itu pergi meninggalkannya untuk selamanya. Dia pergi tanpa bisa kembali lagi. Dan sekarang, sudah satu tahun lebih semenjak kepergiannya. Tanggal 14 Februari 2005 bahkan masih terpahat di sana. Tulisan itu sudah mulai memudar, mungkin akan hilang untuk selamanya, seperti Risa yang pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Reina menatap pohon itu sedih, lalu memukulnya dengan keras hingga buku-buku jarinya terasa sakit. Reina tak peduli lagi pada dirinya, ia sudah terlalu sakit karna kepergian Risa. Tak ada lagi yang bisa diharapkan dari masa lalunya. Bahkan, kenyataan, tak ada lagi yang bisa diharapkannya dari masa kini maupun masa depannya. Semuanya omong kosong.
Reina kemudian duduk di bawah pohon, melipat kakinya, kemudian menutup matanya. Setelah itu Reina mulai menangis, menangisi kenangannya, kesalahannya, hidupnya, semuanya.
“Hey, lagi hujan loh, kog masih disini.” Tiba-tiba suara seorang cowok menyadarkan Reina. Reina menoleh ke cowok beralis tebal yang memegangi payung.
Reina menghela nafas. “Apa urusan lo?” kata Reina sinis.
“Aku cuman nggak mau kamu sakit aja.”
“Gue aja nggak perduli sama diri gue sendiri, kenapa lo sok perduli ke gue?” jawab Reina tetap dengan nada sinis.
Farel tersenyum, sangat manis. Whatever lah yang penting gue sama sekali gak menyukainya. Batin Reina.
“Gak usah sok perhatian ke gue, gue gak butuh.” Ucap Reina sengit.
“Sebaiknya kamu pulang, nanti kamu bisa sakit. Ayo kuantar pulang.” Bujuk Farel.
“Udah gue bilang, gak usah sok perduli. Gue gak butuh itu.” Ucap Reina penuh emosi.
“Nggak baik malem-malem disini sendirian. Orang tuamu pasti bingung nyariin kamu. Ayo pulang.” Bujuk Farel lagi.
Akhirnya Reina menyerah dan setuju untuk diantar oleh Farel. Gak tau sebenernya dia siapa. Tapi dia baik sekali dan Reina pun merasa aman dengannya. Padahal dia kan orang asing. Reina hanya kenal nama saja.
Esoknya Reina kembali ke taman. Untung saja kali ini langit sangat mendukung, matahari masih setia menemani-nya. Reina jadi agak bingung, tumben banget Farel gak kesini menjelang magrib begini. Biasanya cowok itu selalu datang sambil bawa payung. Mungkin dia datang hanya saat hujan aja kali ya untuk membawakanku payung? ah! ngomong apa aku ini. Aku kan sedang ingin melihat taman, bukan menunggu cowok asing itu. Batin Reina.
Sampai menjelang magrib Farel tidak juga datang. Reina jadi ingat kata-kata Farel, gak baik sampe malem disini. Reina memgusap air mata yang mulai jatuh ini. Sampai kapan aku harus terpuruk dengan masa laluku. Aku lelah. Aku ingin mengakhiri semua ini. Tapi aku nggak bisa. Kenapa aku masih belum bisa iklasin dia? Aku sangat merindukannya. Merindukan semua kenangan itu. Batin Reina. Reina berbalik dan melihat ukiran namanya dan nama Risa di pohon besar di belakangnya. Perlahan Reina menyentuhnya. Ini seperti ukiran baru. kelihatan banget. “Risa, tapi nggak mungkin. Kenapa ini harus terjadi, kenapa?” Reina celingak-celinguk namun tetap tidak menemukan sosok cowok itu disini. Ia juga menemukan payung, payung yang biasa dibawa Farel untuknya. Kenapa payung ini bisa ada disini?
***
Keesokan harinya Reina datang kembali di tempat biasa. Tapi kali ini ia bukan mengenang Risa. Dan sekarang ia sedang menunggu Farel. Kemarin cowok itu tiba-tiba saja menghilang. Tiba-tiba juga Reina merindukannya.
Reina mengayun-ayunkan kakinya, membiarkan air hujan membasahi tubuhnya. Tiba-tiba air hujan berhenti membasahi tubuhnya. Reina mendongak. Ah! payung itu lagi. Reina menengok ke orang yang membawakannya dan benar saja itu Farel. “Hey.”
“Masih mengenangnya?”
“Iya.” Reina tersenyum.
Farel membantu Reina untuk berdiri. “Pasti belum bisa mengiklaskannya pergi ya? Ikhlaskan dia, jangan bebani dia. Aku yakin dia pasti sedih kalau liat kamu terus-terusan seperti ini. Sifat kamu seperti ini akan menyakiti dia.”
“Nggak, gue udah ikhlasin Risa pergi. Gue sadar, gue salah dengan bersikap seperti ini.”
Kali ini Farel mengerutkan keningnya, mungkin dia bingung. Lalu tersenyum. “Baguslah kalau seperti itu.”
Reina mengangguk. Dan langsung tersenyum. “Gue harusnya sadar kalo Risa nggak akan seneng liat gue sedih. Kenapa gue gak sadar dari dulu? Tapi, kenapa lo selalu jagain gue?”
Farel kali ini menatapku lekat-lekat. “Risa yang nyuruh aku jagain kamu, dia terlalu sayang sama kamu. Dia bilang aku harus selalu jagain kamu.”
“Iya, tapi lo itu siapa. Kenapa lo bisa kenal sama gue, bahkan deket sama Risa.”
“Aku, sepupunya Risa.”
“Kenapa lo mau jagain gue?” tanya Reina.
“Karna, aku menyayangi Risa. Dan aku nggak mau buat dia sedih. Aku tau perasaan kamu setelah kehilangan Risa, karna aku juga ngerasain itu semua. Tapi untungnya aku bisa lepas dari keterpuruk atas kepergiannya. Dan aku nggak mau liat sahabat terdekat Risa selalu terpuruk, hidup dalam bayang-bayang Risa.” Jelas Farel. “Jadi tolong, ikhlasin Risa pergi, dan lanjutin hidup kamu.” Sambungnya.
“Iya, gue janji.” Kata Reina meyakinkan. “Dan makasih buat semuanya.” Tambah Reina.
“Your’e welcome. Aku juga seneng kamu bisa ceria lagi seperti dulu.” Ucapnya tulus.
Kepergian seseorang yang kita sayangi bukan berarti hidup kita berakhir. Reina sadar selama ini ia terlalu terpuruk atas kepergian Risa. Risa memang selalu ada untuk Reina, bersamanya di sampingnya dan… di hatinya.
……..TAMAT…….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar