Kepergianmu
Kepedihanku
Sekolah merupakan tempat
ternyaman melepas gundah, ketika rumah bukan lagi tempat ternyaman melepas
lelah. Keyra sangat mencintai taman belakang sekolahnya yang terbangun indah
nan asri. Keyra sering menghabiskan waktunya disini, menikmati sajian drama
kehidupan yang sedang diputar.
Menampilkan kembali seberkas
ingatan tentang Reina, sahabatnya. Dulu mereka selalu menghabiskan waktu
bersama di taman ini. Di sinilah mereka sering duduk berdampingan, membicarakan
banyak hal dari topik yang ringan hingga berat. Dari topic yang seru hingga
topik yang paling sensitive untuk dibahas.
Sampai saat itu terjadi,
saat yang menggambil Reina darinya, dari sisinya, dari dekapannya.
***
Jakarta,
20 Januari 2015
“Ayo Key, cepetan!!!” seru
Reina gembira sembari berjalan cepat ke arah gerbang, sore ini mereka akan
mengikuti les music bersama. Tadi siang sewaktu Keyra memberitahu kalau ia akan
mengikuti les music dengannya, Reina menjadi sangat ceria. Wajah murung yang
sering ia tampilkan berganti dengan senyuman yang tidak pernah terlepas dari
bibirnya.
“Iya, tapi nggak usah
buru-buru gitu dong Rein, waktu lesnya kan juga masih satu jam lagi.” Tutur
Keyra lembut. Ia masih berusaha mengimbangi langkah Reina yang berjalan cepat,
dan bisa dikategorikan ke lari karena Reina berjalan terlalu cepat.
“Iya aku tau, tapi aku mau
kasih liat tempat les aku, eh… maksud aku tempat les kita ke kamu. Aku mau
kenalin kamu ke temen-temen lesku, guru lesku sama masih banyak lagi deh.” Ucap
Reina membara.
“Iya, tapi kamu jalannya
jangan cepet-cepet gitu juga dong. Aku capek nih ikutin kamu yang jalannya
kayak ibu-ibu mau antri sembako, cepet banget.” Omel Keyra pelan.
“Iihh kamu kog gitu sih,
jahat banget ngatain aku kayak ibu-ibu mau antri sembako. Emang mukaku udah
muka ibu-ibu ya?” protes Reyna pura-pura ngambek. Ia mengerucutkan bibirnya
hingga berbentuk huruf v.
“Ih gitu aja ngambek, kayak
anak kecil tauk.” Goda Keyra.
“Biarin. Aku nggak peduli.”
Ucap Reina masih dengan aksi ngambeknya, ini malah ditambah dengan memalingkan
muka.
“Beneran nih nggak peduli?
Meskipun diliatin sama Kak Rafka dari koridor juga masih tetep nggak peduli?
Wah, berarti Reina kalo marah kebal juga ya.” Kata Keyra tambah menggoda Reina.
“Apa? Kak Rafka liatin dari
koridor? Aduh malu aku, kenapa kamu nggak kasih tau dari tadi sih.” Katanya
sembari celingak-celinguk mencari sosok Rafka yang katanya lagi melihat tingkah
aneh mereka dari koridor. Setelah mencari beberapa menit dan tak menemuka sosok
yang dicarinya. Reina memalingkan muka ke arah Keyra. “Mana, katanya kak Rafka
lagi liatin kita dari koridor? Kamu bohong ya?”
Dan meledaklah tawa Keyra
karena berhasil mengerjai Reina. Keyra sampai harus memegangi perutnya sendiri
untuk menghalau rasa kram karna terlalu banyak tertawa. “Maaf… hahaha… maaf
Rein, tapi tadi ekspresi kamu lucu banget loh... hahaha…”
“KEYRA!!!!” teriak Reina
kesal sekaligus malu dikerjai seperti tadi. “Awas kamu ya, bakal aku balas
sampai kamu minta ampun.” Ancamnya.
“Maaf Rein……. Aku permisi
kabur dulu ya.” Keyra berlari keluar gerbang sekolah, masih dengan tawanya.
“Key, jangan harap bisa
kabur dari aku. Awas aja kalo sampe kena bakal aku gelitikin nanti.”
“Ampun…. Rein…..” Ucapnya
dengan nada yang dibuat-buat.
“Kali ini nggak ada ampun
buat kamu.”
Mereka terus
berkejar-kejaran sampai di persimpangan jalan.
“Keyra! Awas!”
Karena berlari
begitu kencang, Keyra tidak menyadari bahwa dia sudah menyeberang jalan raya.
Di sisi lain ada mobil berkecepatan tinggi sedang melaju ke arahnya dengan
sangat kencang. Keyra menjerit, lampu mobil itu membuatnya silau dan dia yakin
bahwa dalam beberapa detik dia akan mati.
Tetapi sebuah
tangan yang kuat mendorongnya dengan keras hingga terguling ke aspal di
seberang jalan yang sepi. Lalu terdengar suara rem berdecit dan tabrakan yang
keras. Dan kemudian teriakan-teriakan panik orang-orang. Keyra bangun dari
posisi badannya yang telungkup. Lutut dan telapak tangannya tergores oleh
aspal, tetapi dia baik-baik saja. Dan kemudian dia terperangah menatap
pemandangan di depannya.
“Reina?”
Reina terbaring
di sana bersimbah darah, kepalanya berdarah, juga darah lain yang mengalir entah
di bagian mana tubuhnya. Reina menyelamatkan nyawanya? Gadis itu mendorong
Keyra agar selamat dari tabrakan itu dan membiarkan dirinya tertabrak. Keyra setengah
merangkak mendekati Reina. Sementara itu beberapa anak lainnya dan para guru tertegun
di sana, tetapi mereka segera menghubungi ambulans.
“Reina?”
Gadis itu masih
sadarkan diri, dia memalingkan kepalanya dan menatap Keyra, darah mengalir di
kepalanya, membasahi pelipis dan mengalir turun ke rahangnya.
“Ironis bukan?
Aku, Reina... merelakan diriku untuk menyelamatkan nyawamu....” gadis itu tersengal
dan matanya tampak berkabut, akan kehilangan kesadarannya. Tetapi dia menatap
Keyra, “Asal kau…. baik-baik saja, aku merelakan diriku sendiri terluka.”
Air mata
mengalir di pipi Keyra. Reina menyelamatkan nyawanya dan mencemaskan dirinya.
Gadis itu memang jutek, kasar, angkuh dan hanya Keyra sahabatnya di sekolah ini,
tetapi dia menyelamatkan Keyra. Keyra menganggukkan kepalanya, mulai
terisak-isak. Sementara Reina tersenyum lega melihat anggukan kepala Keyra.
Jemarinya yang berdarah menyentuh pipi Keyra, meninggalkan bekas darah di sana,
“Bagus. Jaga diri kamu baik-baik....” lalu jemari itu lunglai ke aspal.
“Reina? Reina?
Bertahanlah!.... Reina?” Keyra menjerit mencoba memanggil-manggil nama Reina.
Ambulans datang
tidak lama setelah itu, para medis mencoba membantu Keyra berdiri. Beberapa
langsung memeriksa Reina dan menjauhkan Keyra darinya. Yang bisa dilakukan
Keyra hanya memanggil-manggil nama Reina dengan ketakutan yang amat sangat.
Takut kalau sahabatnya itu pada akhirnya akan meninggal.
***
Kedua orangtua
Reina menyusuri lorong rumah sakit dengan raut cemas. Meski ia melihat Keyra
duduk di bangku rumah sakit sembari bersandar di dinding. Wajah gadis itu
terlihat sangat lelah dengan air mata disana.
“Keyra…
sayang….” Mama Reina menyentuh bahu Keyra, pelan. Keyra mendongak. Kemudian
menggenggam tangannya lembut.
“Tante… Reina…”
hanya dua patah kata itu yang bisa diucapkannya. Karena tangisanya telah
mengambil alih. Mama Reina terhenyak.
“Tante udah tau,
ini bukan salah kamu, ini sudah takdir.” Ucap mama Reina tabah, meskipun
dirinya sendiri sulit menerima ini semua. Ia mengusap kepala Keyra pelan.
”Jangan pernah salahin diri kamu sendiri, semua ini udah jadi keputusan yang
diatas. Kita harus kuat buat Reina, sayang.” Ucapnya lebih kepada dirinya
sendiri.
***
Sudah satu
minggu sejak kecelakaan itu terjadi, namun Reina masih belum sadarkan diri
juga. Hingga saat ini, Keyra masih setia menunggui Reina. Melakukan pembicaraan
monolog, berharap Reina bisa merespon apa yang diucapkannya.
“Tadi…. Di
sekolah teman-teman menanyakan kabar kamu,” gumamnya. Suaranya lirih. Hanya
sebesar itulah tenaga yang bisa dikerahkannya untuk bicara. “Mereka khawatir
dengan kondisi kamu….” Ia mengangkat wajah dan tersenyum singkat, lalu menunduk
kembali ketika merasa matanya perih.
“Kamu tahu, tadi
Bu Ratna juga sampe keliru manggil Aira dengan nama kamu… mereka kangen sama
kamu.” Keyra mendesah pelan. “Aku juga... Aku juga udah kangen banget sama
kamu.” Ia mengamati wajah Reina, berharap melihat sedikit reaksi. Tapi tidak
ada sama sekali.
Ia meremas-remas
tangannya sendiri. “Tadi, mama juga buatin aku dua bekal loh, mama bilang satu
bekal itu buat kamu….” Keyra kembali menunduk. Air matanya menetes ke kepalan
tangan yang ditumpukan di kedua lututnya. Sial! Kenapa ia tidak bisa mengendalikan
air matanya? Dengan cepat ia mengusap air matanya. “Mama pasti lupa kalau kamu
lagi sakit….” Keyra meneruskan kata-katanya.
“Kami selalu
berharap kamu cepet sembuh. Makanya kamu harus kuat, kamu harus sembuh biar
kita bisa hang out bareng lagi kayak dulu.”
Ia memaksa diri
mengangkat wajah dan menatap wajah Reina. “Makasih.” Suaranya gemetar.
Tangannya juga. “Terima kasih atas semua yang udah kamu lakukan untukku. Aku
selalu senang bersamamu. Kamu membuat segalanya menyenangkan. Saat-saat bersamamu
adalah saat-saat paling membahagiakan. Aku selalu mengira saat itu bisa
bertahan selamanya.”
Bolehkah ia
bersikap egois sekarang? Bolehkah ia meminta Reina agar tetap bersamanya? Ia
menatap Reina dan matanya melebar. Apakah ia salah lihat? Tidak... Sebelah mata
Reina yang tidak tertutup perban sepertinya basah.
Reina
menangis...! Reina bisa mendengarnya...!
Air mata Keyra
semakin deras. Ia mencondongkan tubuhnya dan menyentuh lengan Reina dengan
perlahan. “Reina,” panggilnya, lalu membekap mulutnya sendiri ketika ia mulai
terisak. “Kau bisa mendengarku? Kau mendengar semua kataku?”
Setetes air mata
bergulir turun dari mata Reina yang terpejam, namun Reina sama sekali tidak
bergerak. Keyra mulai terisak.
“Jangan marah
padaku kalau aku menangis sekarang.” Ia menggeleng. “Biarkan aku menangis. Hari
ini saja.” Ia menarik napas dengan susah payah. “Dengarkan aku. Tidak perlu
mengkhawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Kamu dengar aku, Reina? Aku baik-baik
saja. Mungkin butuh waktu, tapi aku akan baik-baik saja. Kamu boleh lihat
sendiri nanti. Kamu akan lihat tidak lama lagi aku akan kembali tertawa, dan
mengoceh seperti biasa. Aku janji.”
Keyra memegang
lengan Reina dengan sebelah tangan sementara tangan lainnya menutup mulut. “Aku
akan baik-baik saja,” isaknya pelan. “Aku akan selalu menyayangimu.”
Lalu Keyra
mendengar bunyi panjang dan datar yang membuatnya bulu kuduknya meremang. Ia
mengangkat kepala dan menatap monitor penunjuk detak jantung. Hanya ada garis
lurus yang terlihat di sana. Dan bunyi panjang dan monoton itu....
Segalanya seakan
berlangsung dalam gerakan lambat. Ia memutar kepala dan menatap Reina. Wajah
Reina masih tenang seperti sebelumnya. Kepala Keyra berputar kembali ke monitor
yang menunjukkan garis lurus itu.
Sebelum ia
sempat berpikir, pintu kamar terbuka dan orang-orang berpakaian putih menerobos
masuk. Ia tidak menyadari Keysha, kakak Reina menariknya menjauh dari ranjang
dan memeluknya. Sosok Reina menghilang ditelan kerumunan orang berbaju putih
itu.
Namun
kenyataannya usaha dokter dan perawat yang mengelilingi ranjang Reina tidak
membuahkan hasil. Keyra melihat mereka perlahan-lahan menjauh dari ranjang.
Matanya beralih menatap monitor yang tetap menunjukkan garis lurus itu.
Tidak berubah...
Mereka gagal menyelamatkan Reina.
Ia merasa tubuh
Keysha gemetar. Keysha menangis. Ia juga melihat mama dan papa Reina menangis
sambil memeluk tubuh putrinya. Keyra membenamkan wajah di pelukan Keysha dan
menangis bersamanya.
Jangan marah
padaku kalau aku menangis.... Hari ini saja.... Kamu boleh lihat sendiri nanti.
Kamu akan lihat tidak lama lagi aku akan kembali tertawa, dan mengoceh
seperti biasa.... Aku janji....
***
Jakarta, 14
Febuari 2016
“Hey!” sapa
Rafka membangunkannya dari lamunan. Ia mengambil duduk disamping Keyra,
setengah menyamping menghadap Keyra.
“Eh, kak Rafka, ngagetin
aja.” Dalihnya.
“Ngapain? Masih
kepikiran Reina?” tanyanya.
Keyra hanya
mengangguk lemah. “Tapi aku cuma mengenang Reina kog kak, aku udah ikhlasin
kepergian Reina. Mungkin emang itu jalan terbaik buat kita, buat aku sama dia.
itu semua kan udah jadi keputusan dari Allah.”
“Gitu dong, kita
emang boleh sedih atas kepergian Reina, tapi kita nggak boleh terpuruk
selamanya. Reina juga akan sedih kalau liat kita terpuruk.”
“Iya aku tau. Karena kepergian seseorang yang kita
sayangi bukan berarti hidup kita berakhir. Aku sadar selama ini aku terlalu
terpuruk atas kepergian Reina, dan itu akan sangat mennyakitinya. Reina memang
selalu ada untukku, bersamaku, di sampingku, dan… di hatiku.” Ucapnya sembari
menujuk ke arah hatinya.
Kita tertawa, kita menangis bersama sahabat, namun
tidak akan pernah ada kata berpisah untuk sahabat. Meskipun dengan kematian
sekaligus. Karena sahabat sejati selalu di hati dan mendekapmu erat. Seperti
do’a-do’a yang tak pernah lelah berharap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar