Minggu, 04 Desember 2016



Kepergianmu Kepedihanku


Sekolah merupakan tempat ternyaman melepas gundah, ketika rumah bukan lagi tempat ternyaman melepas lelah. Keyra sangat mencintai taman belakang sekolahnya yang terbangun indah nan asri. Keyra sering menghabiskan waktunya disini, menikmati sajian drama kehidupan yang sedang diputar.
Menampilkan kembali seberkas ingatan tentang Reina, sahabatnya. Dulu mereka selalu menghabiskan waktu bersama di taman ini. Di sinilah mereka sering duduk berdampingan, membicarakan banyak hal dari topik yang ringan hingga berat. Dari topic yang seru hingga topik yang paling sensitive untuk dibahas.
Sampai saat itu terjadi, saat yang menggambil Reina darinya, dari sisinya, dari dekapannya.
***
Jakarta, 20 Januari 2015
“Ayo Key, cepetan!!!” seru Reina gembira sembari berjalan cepat ke arah gerbang, sore ini mereka akan mengikuti les music bersama. Tadi siang sewaktu Keyra memberitahu kalau ia akan mengikuti les music dengannya, Reina menjadi sangat ceria. Wajah murung yang sering ia tampilkan berganti dengan senyuman yang tidak pernah terlepas dari bibirnya.
“Iya, tapi nggak usah buru-buru gitu dong Rein, waktu lesnya kan juga masih satu jam lagi.” Tutur Keyra lembut. Ia masih berusaha mengimbangi langkah Reina yang berjalan cepat, dan bisa dikategorikan ke lari karena Reina berjalan terlalu cepat.
“Iya aku tau, tapi aku mau kasih liat tempat les aku, eh… maksud aku tempat les kita ke kamu. Aku mau kenalin kamu ke temen-temen lesku, guru lesku sama masih banyak lagi deh.” Ucap Reina membara.
“Iya, tapi kamu jalannya jangan cepet-cepet gitu juga dong. Aku capek nih ikutin kamu yang jalannya kayak ibu-ibu mau antri sembako, cepet banget.” Omel Keyra pelan.
“Iihh kamu kog gitu sih, jahat banget ngatain aku kayak ibu-ibu mau antri sembako. Emang mukaku udah muka ibu-ibu ya?” protes Reyna pura-pura ngambek. Ia mengerucutkan bibirnya hingga berbentuk huruf v.
“Ih gitu aja ngambek, kayak anak kecil tauk.” Goda Keyra.
“Biarin. Aku nggak peduli.” Ucap Reina masih dengan aksi ngambeknya, ini malah ditambah dengan memalingkan muka.
“Beneran nih nggak peduli? Meskipun diliatin sama Kak Rafka dari koridor juga masih tetep nggak peduli? Wah, berarti Reina kalo marah kebal juga ya.” Kata Keyra tambah menggoda Reina.
“Apa? Kak Rafka liatin dari koridor? Aduh malu aku, kenapa kamu nggak kasih tau dari tadi sih.” Katanya sembari celingak-celinguk mencari sosok Rafka yang katanya lagi melihat tingkah aneh mereka dari koridor. Setelah mencari beberapa menit dan tak menemuka sosok yang dicarinya. Reina memalingkan muka ke arah Keyra. “Mana, katanya kak Rafka lagi liatin kita dari koridor? Kamu bohong ya?”
Dan meledaklah tawa Keyra karena berhasil mengerjai Reina. Keyra sampai harus memegangi perutnya sendiri untuk menghalau rasa kram karna terlalu banyak tertawa. “Maaf… hahaha… maaf Rein, tapi tadi ekspresi kamu lucu banget loh... hahaha…”
“KEYRA!!!!” teriak Reina kesal sekaligus malu dikerjai seperti tadi. “Awas kamu ya, bakal aku balas sampai kamu minta ampun.” Ancamnya.
“Maaf Rein……. Aku permisi kabur dulu ya.” Keyra berlari keluar gerbang sekolah, masih dengan tawanya.
“Key, jangan harap bisa kabur dari aku. Awas aja kalo sampe kena bakal aku gelitikin nanti.”
“Ampun…. Rein…..” Ucapnya dengan nada yang dibuat-buat.
“Kali ini nggak ada ampun buat kamu.”
Mereka terus berkejar-kejaran sampai di persimpangan jalan.
“Keyra! Awas!”
Karena berlari begitu kencang, Keyra tidak menyadari bahwa dia sudah menyeberang jalan raya. Di sisi lain ada mobil berkecepatan tinggi sedang melaju ke arahnya dengan sangat kencang. Keyra menjerit, lampu mobil itu membuatnya silau dan dia yakin bahwa dalam beberapa detik dia akan mati.
Tetapi sebuah tangan yang kuat mendorongnya dengan keras hingga terguling ke aspal di seberang jalan yang sepi. Lalu terdengar suara rem berdecit dan tabrakan yang keras. Dan kemudian teriakan-teriakan panik orang-orang. Keyra bangun dari posisi badannya yang telungkup. Lutut dan telapak tangannya tergores oleh aspal, tetapi dia baik-baik saja. Dan kemudian dia terperangah menatap pemandangan di depannya.
“Reina?”
Reina terbaring di sana bersimbah darah, kepalanya berdarah, juga darah lain yang mengalir entah di bagian mana tubuhnya. Reina menyelamatkan nyawanya? Gadis itu mendorong Keyra agar selamat dari tabrakan itu dan membiarkan dirinya tertabrak. Keyra setengah merangkak mendekati Reina. Sementara itu beberapa anak lainnya dan para guru tertegun di sana, tetapi mereka segera menghubungi ambulans.
“Reina?”
Gadis itu masih sadarkan diri, dia memalingkan kepalanya dan menatap Keyra, darah mengalir di kepalanya, membasahi pelipis dan mengalir turun ke rahangnya.
“Ironis bukan? Aku, Reina... merelakan diriku untuk menyelamatkan nyawamu....” gadis itu tersengal dan matanya tampak berkabut, akan kehilangan kesadarannya. Tetapi dia menatap Keyra, “Asal kau…. baik-baik saja, aku merelakan diriku sendiri terluka.”
Air mata mengalir di pipi Keyra. Reina menyelamatkan nyawanya dan mencemaskan dirinya. Gadis itu memang jutek, kasar, angkuh dan hanya Keyra sahabatnya di sekolah ini, tetapi dia menyelamatkan Keyra. Keyra menganggukkan kepalanya, mulai terisak-isak. Sementara Reina tersenyum lega melihat anggukan kepala Keyra. Jemarinya yang berdarah menyentuh pipi Keyra, meninggalkan bekas darah di sana, “Bagus. Jaga diri kamu baik-baik....” lalu jemari itu lunglai ke aspal.
“Reina? Reina? Bertahanlah!.... Reina?” Keyra menjerit mencoba memanggil-manggil nama Reina.
Ambulans datang tidak lama setelah itu, para medis mencoba membantu Keyra berdiri. Beberapa langsung memeriksa Reina dan menjauhkan Keyra darinya. Yang bisa dilakukan Keyra hanya memanggil-manggil nama Reina dengan ketakutan yang amat sangat. Takut kalau sahabatnya itu pada akhirnya akan meninggal.
***
Kedua orangtua Reina menyusuri lorong rumah sakit dengan raut cemas. Meski ia melihat Keyra duduk di bangku rumah sakit sembari bersandar di dinding. Wajah gadis itu terlihat sangat lelah dengan air mata disana.
“Keyra… sayang….” Mama Reina menyentuh bahu Keyra, pelan. Keyra mendongak. Kemudian menggenggam tangannya lembut.
“Tante… Reina…” hanya dua patah kata itu yang bisa diucapkannya. Karena tangisanya telah mengambil alih. Mama Reina terhenyak.
“Tante udah tau, ini bukan salah kamu, ini sudah takdir.” Ucap mama Reina tabah, meskipun dirinya sendiri sulit menerima ini semua. Ia mengusap kepala Keyra pelan. ”Jangan pernah salahin diri kamu sendiri, semua ini udah jadi keputusan yang diatas. Kita harus kuat buat Reina, sayang.” Ucapnya lebih kepada dirinya sendiri.
***
Sudah satu minggu sejak kecelakaan itu terjadi, namun Reina masih belum sadarkan diri juga. Hingga saat ini, Keyra masih setia menunggui Reina. Melakukan pembicaraan monolog, berharap Reina bisa merespon apa yang diucapkannya.
“Tadi…. Di sekolah teman-teman menanyakan kabar kamu,” gumamnya. Suaranya lirih. Hanya sebesar itulah tenaga yang bisa dikerahkannya untuk bicara. “Mereka khawatir dengan kondisi kamu….” Ia mengangkat wajah dan tersenyum singkat, lalu menunduk kembali ketika merasa matanya perih.
“Kamu tahu, tadi Bu Ratna juga sampe keliru manggil Aira dengan nama kamu… mereka kangen sama kamu.” Keyra mendesah pelan. “Aku juga... Aku juga udah kangen banget sama kamu.” Ia mengamati wajah Reina, berharap melihat sedikit reaksi. Tapi tidak ada sama sekali.
Ia meremas-remas tangannya sendiri. “Tadi, mama juga buatin aku dua bekal loh, mama bilang satu bekal itu buat kamu….” Keyra kembali menunduk. Air matanya menetes ke kepalan tangan yang ditumpukan di kedua lututnya. Sial! Kenapa ia tidak bisa mengendalikan air matanya? Dengan cepat ia mengusap air matanya. “Mama pasti lupa kalau kamu lagi sakit….” Keyra meneruskan kata-katanya.
“Kami selalu berharap kamu cepet sembuh. Makanya kamu harus kuat, kamu harus sembuh biar kita bisa hang out bareng lagi kayak dulu.”
Ia memaksa diri mengangkat wajah dan menatap wajah Reina. “Makasih.” Suaranya gemetar. Tangannya juga. “Terima kasih atas semua yang udah kamu lakukan untukku. Aku selalu senang bersamamu. Kamu membuat segalanya menyenangkan. Saat-saat bersamamu adalah saat-saat paling membahagiakan. Aku selalu mengira saat itu bisa bertahan selamanya.”
Bolehkah ia bersikap egois sekarang? Bolehkah ia meminta Reina agar tetap bersamanya? Ia menatap Reina dan matanya melebar. Apakah ia salah lihat? Tidak... Sebelah mata Reina yang tidak tertutup perban sepertinya basah.
Reina menangis...! Reina bisa mendengarnya...!
Air mata Keyra semakin deras. Ia mencondongkan tubuhnya dan menyentuh lengan Reina dengan perlahan. “Reina,” panggilnya, lalu membekap mulutnya sendiri ketika ia mulai terisak. “Kau bisa mendengarku? Kau mendengar semua kataku?”
Setetes air mata bergulir turun dari mata Reina yang terpejam, namun Reina sama sekali tidak bergerak. Keyra mulai terisak.
“Jangan marah padaku kalau aku menangis sekarang.” Ia menggeleng. “Biarkan aku menangis. Hari ini saja.” Ia menarik napas dengan susah payah. “Dengarkan aku. Tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Kamu dengar aku, Reina? Aku baik-baik saja. Mungkin butuh waktu, tapi aku akan baik-baik saja. Kamu boleh lihat sendiri nanti. Kamu akan lihat tidak lama lagi aku akan kembali tertawa, dan mengoceh seperti biasa. Aku janji.”
Keyra memegang lengan Reina dengan sebelah tangan sementara tangan lainnya menutup mulut. “Aku akan baik-baik saja,” isaknya pelan. “Aku akan selalu menyayangimu.”
Lalu Keyra mendengar bunyi panjang dan datar yang membuatnya bulu kuduknya meremang. Ia mengangkat kepala dan menatap monitor penunjuk detak jantung. Hanya ada garis lurus yang terlihat di sana. Dan bunyi panjang dan monoton itu....
Segalanya seakan berlangsung dalam gerakan lambat. Ia memutar kepala dan menatap Reina. Wajah Reina masih tenang seperti sebelumnya. Kepala Keyra berputar kembali ke monitor yang menunjukkan garis lurus itu.
Sebelum ia sempat berpikir, pintu kamar terbuka dan orang-orang berpakaian putih menerobos masuk. Ia tidak menyadari Keysha, kakak Reina menariknya menjauh dari ranjang dan memeluknya. Sosok Reina menghilang ditelan kerumunan orang berbaju putih itu.
Namun kenyataannya usaha dokter dan perawat yang mengelilingi ranjang Reina tidak membuahkan hasil. Keyra melihat mereka perlahan-lahan menjauh dari ranjang. Matanya beralih menatap monitor yang tetap menunjukkan garis lurus itu.
Tidak berubah... Mereka gagal menyelamatkan Reina.
Ia merasa tubuh Keysha gemetar. Keysha menangis. Ia juga melihat mama dan papa Reina menangis sambil memeluk tubuh putrinya. Keyra membenamkan wajah di pelukan Keysha dan menangis bersamanya.
Jangan marah padaku kalau aku menangis.... Hari ini saja.... Kamu boleh lihat sendiri nanti. Kamu akan lihat tidak lama lagi aku akan kembali tertawa, dan mengoceh seperti biasa.... Aku janji....
***
Jakarta, 14 Febuari 2016
“Hey!” sapa Rafka membangunkannya dari lamunan. Ia mengambil duduk disamping Keyra, setengah menyamping menghadap Keyra.
“Eh, kak Rafka, ngagetin aja.” Dalihnya.
“Ngapain? Masih kepikiran Reina?” tanyanya.
Keyra hanya mengangguk lemah. “Tapi aku cuma mengenang Reina kog kak, aku udah ikhlasin kepergian Reina. Mungkin emang itu jalan terbaik buat kita, buat aku sama dia. itu semua kan udah jadi keputusan dari Allah.”
“Gitu dong, kita emang boleh sedih atas kepergian Reina, tapi kita nggak boleh terpuruk selamanya. Reina juga akan sedih kalau liat kita terpuruk.”
“Iya aku tau. Karena kepergian seseorang yang kita sayangi bukan berarti hidup kita berakhir. Aku sadar selama ini aku terlalu terpuruk atas kepergian Reina, dan itu akan sangat mennyakitinya. Reina memang selalu ada untukku, bersamaku, di sampingku, dan… di hatiku.” Ucapnya sembari menujuk ke arah hatinya.
Kita tertawa, kita menangis bersama sahabat, namun tidak akan pernah ada kata berpisah untuk sahabat. Meskipun dengan kematian sekaligus. Karena sahabat sejati selalu di hati dan mendekapmu erat. Seperti do’a-do’a yang tak pernah lelah berharap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar