Dandelion
Kaila
yang sedang bergegas menuju ke kelas bersama teman-temannya, sempat tercengang
saat melihat seorang anak laki-laki di ruang perpustakaan. Ia lalu berhenti dan
menatap ke arah anak laki-laki itu. Kaila menatapnya dengan penuh kekaguman.
“Itukan… dia….” Kaila menghela nafas tanpa sadar. “Subhanalloh… sungguh sosok
yang sangat mengagumkan. Meskipun memiliki kekurangan, ia tetap gigih dalam
belajar.” Batin Kaila dalam hati.
“La…!”
panggil Claira, setengah berteriak. Sontak menarik perhatian Kaila dari anak
laki-laki tersebut, dan terdiam sejenak. Mengumpulkan konsentrasinya kembali.
“Ayo
cepetan…. Keburu masuk nanti.” Ajak Claira semangat.
“Iya
bentar…” sahut Kaila datar. Ia lalu berjalan menghampiri teman-temannya, dengan
senyum mengembang di bibirnya.
“Ngapain
sih berhenti di depan perpus kayak tadi?” tanya Alita penasaran. Tidak biasanya
sahabatnya yang satu ini bersikap seperti barusan.
Kaila
tidak menjawab pertanyaan Alita, ia hanya tersenyum misterius.
“Kamu
mau pinjem buku La?” tanya Vitha tanpa memperdulikan raut wajah Kaila yang
menerawang. “Tumben, biasanya aja alergi sama bau buku.” Tambahnya tak perduli.
“Nggak,
aku tadi cuma keinget sesuatu aja. Makanya berhenti tiba-tiba.” Elaknya halus.
***
Sehari,
dua hari, bahkan sekarang sudah satu minggu sejak Kaila melihat ssok pemuda itu
di perpustakaan, Ternyata… pengaruh anak laki-laki di perpustakaan yang dilihat
Kaila, tidak hanya sampai di situ. Seperti hari ini, saat Kaila hendak
mengambil air wudhu, ia langsung diam terpaku saat melihat anak laki-laki itu
sedang melakukan hal yang akan dilakukan Kaila beberapa menit yang lalu.
“Subhanalloh…
sungguh pribadi yang mengagumkan. Ia tidak hanya rajin dalam belajar, namun
juga taat dalam ibadah.” Batin Kaila dalam hati.
“La…”
panggil Tania pelan. Namun tidak mendapat jawaban dari Kaila, Tania menyentuh
pundak sahabatnya itu. Sentuhannya ringan, seringan kapas. Namun sontak
menyadarkan Kaila dari lamunannya dan mengembalikannya ke alam nyata.
“Eh…
iya, Tan.” ucap Kaila tergeragap.
“Cepetan
kalau mau ambil air wudhu, ditungguin orang banyak loh.” Ucap Tania lembut,
mengingatkan.
Kaila
mendesah pelan, lagi-lagi Kaila memikirkannya, ia terhanyut dalam semua
kebaikan pemuda itu. Kaila kemudian kembali melakukan aktifitasnya yang sempat
tertunda.
“La,
kamu kenapa sih akhir-akhir ini kog sering banget ngelamun?” Tanya Tania saat
mereka bersiap kembali ke kelas.
“Nggak
apa-apa, emangnya aku aneh ya beberapa hari ini?” jawabnya datar.
“Ya,
git… aduh…” pekik Tania pelan. “La, aku ke toilet dulu ya, kamu balik aja
duluan.” Ucapnya, setelah itu langsung kabur ke toilet meninggalkan Kaila yang
hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.
Saat
ia berjalan menuju kelas, ia melihat pemuda itu duduk di bangku taman dengan
buku di tangannya. Kaila memeberanikan diri menghampiri pemuda itu. Pemuda itu
nampak sangat serius dengan kegiatannya, sampai-sampai ia tidak menyadari
keberadaan Kaila di sampingnya. Dengan ragu Kaila menyapa pemuda itu, “Hai…”
sapa Kaila lembut.
Pemuda
itu mendongak dan tersenyum saat melihat sosok Kaila di sampingya. Senyum yang ramah, batin Kaila. Melihat
senyuman pemuda itu keraguan Kaila hilang seketika.
“Boleh
aku duduk?” tanyanya sopan.
Pemuda
itu menjawab dengan anggukan kepala dan menggeser tubuhnya, memberika Kaila
tempat untuk duduk.
“Lagi
ngapain sih? Kok sendirian aja?” tanya Kaila lagi.
Pemuda
itu tampak bingung memikirkan cara menjawab pertanyaan Kaila, lalu dia teringat
sesuatu. Ia mengambil buku di pangkuannya dan menuliskan sesuatu pada
salah-satu halaman kosong di buku itu. Lalu meberikannya kepada Kaila.
Kaila
membacanya sekilas, dan berucap kembali. “Oh, kamu lagi nyiapin bahan buat
karya ilmiah… hebat.” Pujinya tulus. “Emang mau buat karya ilmiah tentang apa?”
tanya Kaila penasaran.
Pemuda
itu menuliskan lagi jawabannya, dan memberikannya kepada Kaila. Kaila
tercengang saat membaca tulisan di kertas yang diberikan pemuda itu. Ia kagum
dengan kegigihan pemuda itu. “Wow, karya ilmiah tentang pembuatan tenaga
listrik dari tangga, ini hebat banget.” Ucapnya tulus. “Oh iya kita dari tadi
ngobrol tapi nggak saling kenal. Kenalin aku Kaila.” Tambahnya sembari
mengulurkan tangannya.
Pemuda
itu menjabat uluran tangan Kaila dengan ragu-ragu, namun setelah melihat senyum
pasti di wajah Kaila keraguannya memudar. Lalu menuliskan namanya di kertas dan
memberikannya kepada Kaila.
“Oh
Dhani, ya udah kalau gitu aku permisi dulu. Semangat!!!!” ucapnya lalu
melangkah pergi meninggalkan pemuda yang sebenarnya bernama Dhani itu
sendirian.
***
Pagi
ini, saat Kaila berjalan menuju ruang kelasnya. Tidak sengaja ia melewati ruang
kelas Dhani. Dan pemandangan pagi hari ini sangat mengejutkannya, pemandangan
Dhani yang dibully teman-teman satu
kelasnya. Tak tau kenapa, Kaila merasa geram atas tingkah laku teman-teman
Dhani. Tanpa pikir panjang Kaila langsung menghampiri teman-teman Dhani.
“Sungguh
tidak bermoral, apa ini perilaku seorang pelajar? Apa seperti ini kalian
memperlakukan orang yang memiliki kekurangan? Aku jadi bertanya-tanya apakah kalian
orang yang beragama?” cecarnya marah. “Harusnya kalian malu, Dhani yang
memiliki kekurangan bisa melakukan hal yang mungkin tidak bisa kita lakukan.
Harusnya kalian bisa belajar dari dia. Tidak selayaknya kita menghina orang
yang memiliki kekurangan.”
Teman
sekelas dhani hanya tertawa meremehkan. “Terus, masalah buat kamu? Terus, kamu
nggak ada hak mempertanyakan kami orang beragama atau nggak.” Balas salah satu
perempuan di kelas itu.
“Memang
bukan urusanku, tapi sebagai sesama orang yang beragama kita wajib
memperingatkan orang yang salah jalan. Dan memang cara kalian seperti ini
salah.” Ucap Kaila mengingatkan.
Dhani
menyentuh pundak Kaila berusaha menahannya agar tidak terlalu marah-marah.
Kaila tidak memperdulikan Dhani yang mencoba menghentikan amarahnya, dan tetap
marah-marah. Dhani yang tidak mau ada keributan terlalu jauh langsung menarik
Kaila keluar kelas, tidak memperdulikan Kaila yang tambah marah-marah karena
ditarik keluar secara paksa.
Dhani
berhenti di taman sekolah, pagi ini taman begitu lenggang, seakan semua orang
enggan berada di taman itu.
“Kamu
kenapa sih nggak berusaha melawan mereka? Kalau kamu seperti ini terus itu akan
membuat mereka tambah semena-mena.” Omel Kaila geram, ia tidak habis fikir
dengan perilaku Dhani yang diam saja saat dihina seperti tadi.
Dhani
tidak menghiraukan omelan Kaila, ia mengambil duduk di kursi taman dekat Kaila.
Kaila yang merasa tidak diperhatikan tambah mengomel. Dhani yang tidak tahan
dengan omelan Kaila menuliskan sesuatu dan menyerahkannya kepada Kaila.
Kaila
membaca tulisan yang ada di kertas yang diberikan Dhani dengan perasaan geram,
ia membacanya sekilas. Dan mengomel lagi. “Aku ngerti kalau kamu nggak mau cari
musuh, aku tau kamu cuma mau belajar dengan giat dan membuktikan ke semuanya
kalau kamu bisa. Tapi kamu nggak bisa diam terus kayak gini kalau dihina.”
Dan
omelan itu terus berlangsung sampai Kaila merasa lelah. Dhani menuliskan
sesuatu di kertas dan menyerahkannya kepada Kaila. Kaila membacanya dengan
sedikit keras. “Kamu tau kan dandelion?” saat membaca kalimat pertama Dhani ia
mengangguk dan mengernyit bingung. “Bunga itu memang kecil, tapi mengajarkan
banyak hal terhadap kita. Termasuk tentang kuatnya kita dalam menghadapi
kehidupan. Aku hanya ingin seperti dandelion yang begitu cantik, kecil, dan
rapuh, namun mampu menghadapi dunia.” Kaila terpesona membaca tulisan itu, ia
tidak menyangka seseorang seperti Dhani bisa berpikiran meluas seperti ini.
Sungguh luar biasa.
“Tapi
nggak seperti ini caranya, mereka nggak bisa ngeremehin kamu terus-terusan
seperti itu.” Ucap Kaila tetap tidak terima.
Dhani
menuliskan sesuatu lagi di kertasnya dan memberikannya kepada Kaila. ‘Semua orang memiliki caranya sendiri untuk
menghadapi masalahnya. Dan aku memilih cara yang seperti ini.’ Kaila
termenung beberapa menit saat membaca tulisan itu.
“Oh
iya gimana karya ilmiah kamu? Udah jadi?” tanya Kaila mengalihkan pembicaraan.
Dhani
menulis jawaban di kertas dan memberikannya kepada Kaila. Kaila menerima kertas
itu dengan antusias dan membacanya perlahan. “Wow, udah jadi dan udah kamu
kirim.” Katanya tak percaya. “Kamu emang hebat banget, aku do’ain karya kamu
jadi yang terbaik deh. Tapi ngomong-ngomong kapan pengumuman penilaiannya?”
Dhani
menuliskan kembali jawabannnya dan memberikannya kepada Kaila.
“Oh….
Bulan depan, diumumkan di koran-koran.” Ucapnya sembari mengangguk-anggukkan
kepala. “Aduh…” pekik Kaila tiba-tiba. “Udah jam segini lagi, ya udah aku ke
kelas dulu ya takut terlambat masuk.” Ucapnya lalu melangkah pergi dan
melambaikan tangannya kepada Dhani.
***
Satu bulan kemudian……
Kaila berlarian disepanjang koridor sekolah menuju kelas Dhani
sembari membawa Koran pagi. Saat sampai di depan kelas Dhani, ia tersenyum
gembira. Kaila menghampiri Dhani dengan semangat. “Pagi, Dhan! Ada kabar bagus
untukmu!” kata Kaila semangat.
Dhani hanya menanggapi tingkah laku Kaila dengan senyuman.
“Kamu… kamu mendapat juara satu pada lomba karya ilmiah bulan
lalu. Kamu hebat banget, wah… pasti semua orang bangga sama kamu.” Ucapnya
berseri-seri.
Dhani menatapnya tidak percaya, sekaligus gembira. Impiannya
selama ini akan terwujud, dia akan bisa membanggakan semua orang. Dan dia juga
tidak akan diremehkan lagi. Dhani merebut Koran yang dipegang Kaila dan
membacanya dengan cepat dan teliti.
“Selamat ya Dhan…. Kamu emang yang terbaik deh.” Kata Kaila
sembari mengulurkan tangannya. Dhani menerima uluran tangan kaila dengan
semangat.
“PENGUMUMAN UNTUK SELURUH PESERTA DIDIK DAN BAPAK IBU GURU DIMOHON
BERKUMPUL DI LAPANGAN SEKARANG JUGA.”
Dhani dan Kaila langsung menuju ke lapangan setelah mendengar
pengumuman itu. Mereka berpisah saat sampai di lapangan, kaila berjalan menuju
barisan kelasnya sementara Dhani menuju kelasnya juga.
“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bapak/ibu guru yang saya hormati dan
anak-anakku yang saya sayangi. Mari kita panjatkan puja dan puji syukur atas
kehadirat tuhan yang maha esa, karena berkat rahmat dan karunianya kita dapat
berkumpul disini dengan keadaan sehat walafiat.”
“Saya mengumpulkan kalian disini untuk menyampaikan kabar gembira
pada pagi hari ini. Anak-anakku berbanggalah karena salah satu teman kalian
dapat membanggakan sekolah ini dan menjadi contoh yang baik untuk kalian semua.
Ramadhani saputra siswa kelas _______ telah mendapat juara pertama dalam lomba
Karya ilmiah se Asia. Ramadhani Saputra, saya mohon bisa maju ke depan.”
Dhani maju dengan rasa bangga, bukan kesombongan. Semua mata
tertuju padanya dengan rasa kagum, bukan olokan. Kepala sekolah menyalami Dhani
dengan bangga dan takjub.
“Kalian lihat, seseorang yang memiliki kekurangan saja dapat
memenangkan lomba yang sulit, dengan lawan yang berat pula. Namun dengan usaha
dan do’a yang ia lakukan ia dapat memenangkan lomba ini dengan sempurna. Saya
harap ini dapat menjadi motivasi kalian semua agar menjadi lebih baik.” Kepala
sekolah berhenti sebentar dan menatap Dhani. “Apa nak Dhani ingin memberikan
sambutan? Bukan maksud bapak menyinggung.”
Dhani mengangguk dan tersenyum pasti. Ia menuliskan sesuatu di
kertas dan memberikan kepada kepala sekolah, meminta tolong untuk membacakan.
“Ini sambutan dari Dhani. ‘Jangan mengalah hanya karena kamu memiliki
kekurangan, tetapi jadikanlah kekuranganmu itu sebagai kelebihan. Dan jangan
pernah menyerah karena semua orang meremehkanmu, tetapi jadikan itu sebagai
motivasi untuk maju dan membuktikan kamu bisa.’ Nah kalian sudah dengar sendiri
itu motivasi dari Dhani. Sekian pengumuman dari saya, Wasalamu,alaikum Wr. Wb.
Kalian semua dipersilahkan bubar dan masuk kelas masing-masing.
Dhani berjalan menuju kelasnya bersama Kaila. Dan senyum bangga
tak lepas dari bibirnya.
.......THE END…….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar