KEPEDIHANKU KARNAMU
Malam
begitu sunyi ketika Reina berjalan di sisi kota tua itu… yang terasa hanya
dingin menyengat jiwa-jiwa yang kesepian. Jalan-jalan itu nampak sepi. Hanya
terlihat beberapa kendaraan yang lalu lalang… hmmm… benar-benar malam yang
sangat sunyi… sampai Reina memuskan untuk duduk sejenak di sebuah kursi taman
tua yang rapuh…
Ya,
Reina hanya duduk termenung dan melihat sekeliling yang kosong tanpa kehidupan…
hari itu begitu cerah… terlihat bintang yang bertaburan indah dan bulan yang
saling melengkapi. Tuhan…. begitu indah ciptaan Mu… dalam benak-nya…. Setelah
puas menikmati malam di lorong jalan itu… Reina memuskan untuk melanjutkan
perjalanan malam-nya…
Disini
nampak ramai… nampak terang oleh lampu… terdengar musik melayu mengalun dari
sebuah kedai dengan lampu remang-remang… banyak orang disini… namun, Reina
masih saja merasa kesepian.
Setelah
kepergian Risa satu tahun yang lalu, Reina selalu merasa kesepian dan bersalah.
Reina selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Risa. Bahkan ia pernah
sampai mencoba melukai dirinya sendiri, dan itu bukan hanya sekali dua kali
saja. Keluarga Reina sampai tidak tahu harus berbuat apa lagi agar ia bisa
kembali ceria seperti semula.
***
Reina melangkah cepat menuruni jalan kompleksnya. Tahu-tahu, Reina
melihat ke sebuah taman yang terletak tak jauh dari kompleks rumahnya. Reina berhenti
sebentar, dan menatap taman yang tak pernah berubah dari sejak dia masih kecil.
Taman yang asri dengan lapangan basket di tengahnya dan beberapa kursi taman di
pinggirannya. Taman yang menyimpan banyak kenangan. Terlalu banyak kenangan.
Reina memutuskan untuk memasuki taman itu. Entah kekuatan apa yg
menariknya ke sana. Terakhir kali dia ke sana adalah satu tahun lalu sebelum
kepergian Risa. Sejak itu, dia tak pernah ke sana lagi. Reina terlalu takut
untuk memasuki taman itu, ia takut kalau ia kesana, ia akan ingat dengan
kenangannya bersama Risa lagi.
Reina memaksakan diri untuk berjalan ke sebuah pohon, tempat janji
itu dipahat. Setelah bertahun-tahun berlalu, tulisan itu masih di sana. Tulisan
Rei-Risa. Reina menatapnya tanpa ekspresi. Gadis itu tak akan pernah muncul
lagi. Tak akan pernah lagi setelah ia pergi untuk selamanya.
Risa. Gadis kecil itu pergi meninggalkannya untuk selamanya. Dia
pergi tanpa bisa kembali lagi. Dan sekarang, sudah satu tahun lebih semenjak
kepergiannya. Tanggal 14 Februari 2005 bahkan masih terpahat di sana. Tulisan
itu sudah mulai memudar, mungkin akan hilang untuk selamanya, seperti Risa yang
pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Reina menatap pohon itu sedih, lalu memukulnya dengan keras hingga
buku-buku jarinya terasa sakit. Reina tak peduli lagi pada dirinya, ia sudah
terlalu sakit karna kepergian Risa. Tak ada lagi yang bisa diharapkan dari masa
lalunya. Bahkan, kenyataan, tak ada lagi yang bisa diharapkannya dari masa kini
maupun masa depannya. Semuanya omong kosong.
Reina kemudian duduk di bawah pohon, melipat kakinya, kemudian
menutup matanya. Setelah itu Reina mulai menangis, menangisi kenangannya,
kesalahannya, hidupnya, semuanya.
“Hey, lagi hujan loh, kog masih
disini.” Tiba-tiba suara seorang cowok menyadarkan Reina. Reina menoleh ke
cowok beralis tebal yang memegangi payung.
Reina menghela nafas. “Apa urusan lo?”
kata Reina sinis.
“Aku cuman nggak mau kamu sakit aja.”
“Gue aja nggak perduli sama diri gue
sendiri, kenapa lo sok perduli ke gue?” jawab Reina tetap dengan nada sinis.
Farel tersenyum, sangat manis. Whatever
lah yang penting gue sama sekali gak menyukainya. Batin Reina.
“Gak usah sok perhatian ke gue, gue gak
butuh.” Ucap Reina sengit.
“Sebaiknya kamu pulang, nanti kamu bisa
sakit. Ayo kuantar pulang.” Bujuk Farel.
“Udah gue bilang, gak usah sok perduli.
Gue gak butuh itu.” Ucap Reina penuh emosi.
“Nggak baik malem-malem disini
sendirian. Orang tuamu pasti bingung nyariin kamu. Ayo pulang.” Bujuk Farel
lagi.
Akhirnya Reina menyerah dan setuju
untuk diantar oleh Farel. Gak tau sebenernya dia siapa. Tapi dia baik sekali
dan Reina pun merasa aman dengannya. Padahal dia kan orang asing. Reina hanya
kenal nama saja.
Esoknya Reina kembali ke taman. Untung saja
kali ini langit sangat mendukung, matahari masih setia menemani-nya. Reina jadi
agak bingung, tumben banget Farel gak kesini menjelang magrib begini. Biasanya cowok
itu selalu datang sambil bawa payung. Mungkin dia datang hanya saat hujan aja
kali ya untuk membawakanku payung? ah! ngomong apa aku ini. Aku kan sedang
ingin melihat taman, bukan menunggu cowok asing itu. Batin Reina.
Sampai menjelang magrib Farel tidak
juga datang. Reina jadi ingat kata-kata Farel, gak baik sampe malem disini.
Reina memgusap air mata yang mulai jatuh ini. Sampai kapan aku harus terpuruk
dengan masa laluku. Aku lelah. Aku ingin mengakhiri semua ini. Tapi aku nggak
bisa. Kenapa aku masih belum bisa iklasin dia? Aku sangat merindukannya.
Merindukan semua kenangan itu. Batin Reina. Reina berbalik dan
melihat ukiran namanya
dan nama Risa di pohon
besar di belakangnya.
Perlahan Reina menyentuhnya. Ini seperti
ukiran baru. kelihatan banget. “Risa, tapi nggak mungkin. Kenapa ini harus
terjadi, kenapa?” Reina
celingak-celinguk namun tetap tidak menemukan sosok cowok itu disini. Ia juga
menemukan payung, payung yang biasa dibawa Farel untuknya. Kenapa payung ini
bisa ada disini?
***
Keesokan harinya Reina datang kembali
di tempat biasa. Tapi kali ini ia bukan mengenang Risa. Dan sekarang ia sedang
menunggu Farel. Kemarin cowok itu tiba-tiba saja menghilang. Tiba-tiba juga
Reina merindukannya.
Reina mengayun-ayunkan kakinya, membiarkan
air hujan membasahi tubuhnya. Tiba-tiba air hujan berhenti membasahi tubuhnya.
Reina mendongak. Ah! payung itu lagi. Reina menengok ke orang yang membawakannya
dan benar saja itu Farel. “Hey.”
“Masih mengenangnya?”
“Iya.” Reina tersenyum.
Farel membantu Reina untuk berdiri. “Pasti
belum bisa mengiklaskannya pergi ya? Ikhlaskan dia, jangan bebani dia. Aku
yakin dia pasti sedih kalau liat kamu terus-terusan seperti ini. Sifat kamu
seperti ini akan menyakiti dia.”
“Nggak, gue udah ikhlasin Risa pergi.
Gue sadar, gue salah dengan bersikap seperti ini.”
Kali ini Farel mengerutkan keningnya,
mungkin dia bingung. Lalu tersenyum. “Baguslah kalau seperti itu.”
Reina mengangguk. Dan langsung
tersenyum. “Gue harusnya sadar kalo Risa nggak akan seneng liat gue sedih.
Kenapa gue gak sadar dari dulu? Tapi, kenapa lo selalu jagain gue?”
Farel kali ini menatapku lekat-lekat.
“Risa yang nyuruh aku jagain kamu, dia terlalu sayang sama kamu. Dia bilang aku
harus selalu jagain kamu.”
“Iya, tapi lo itu siapa. Kenapa lo bisa
kenal sama gue, bahkan deket sama Risa.”
“Aku, sepupunya Risa.”
“Kenapa lo mau jagain gue?” tanya Reina.
“Karna, aku menyayangi Risa. Dan aku
nggak mau buat dia sedih. Aku tau perasaan kamu setelah kehilangan Risa, karna
aku juga ngerasain itu semua. Tapi untungnya aku bisa lepas dari keterpuruk
atas kepergiannya. Dan aku nggak mau liat sahabat terdekat Risa selalu
terpuruk, hidup dalam bayang-bayang Risa.” Jelas Farel. “Jadi tolong, ikhlasin
Risa pergi, dan lanjutin hidup kamu.” Sambungnya.
“Iya, gue janji.” Kata Reina
meyakinkan. “Dan makasih buat semuanya.” Tambah Reina.
“Your’e welcome. Aku juga seneng kamu
bisa ceria lagi seperti dulu.” Ucapnya tulus.
Kepergian seseorang yang kita sayangi
bukan berarti hidup kita berakhir. Reina sadar selama ini ia terlalu terpuruk atas
kepergian Risa. Risa memang selalu ada untuk Reina, bersamanya di sampingnya
dan… di hatinya.
……..TAMAT…….
